Cerita Rakyat Panglima To Dilating

cerita-rakyat-panglima-to-dilating

Cerita Rakyat Panglima To Dilating – Kisah Panglima To Dilating merupakan cerita rakyat nusantara yang berasal dari Sulawesi. Cerita rakyat Indonesia ini dulu Kakak posting bersama dengan judul Kumpulan Cerita Dongeng Rakyat Nusantara dari Sulawesi. Cerita rakyat Sulawesi ini sangat menarik supaya kakak ceritakan dua kali bersama dengan versi yang berbeda. Yuk kami mengikuti bersama.

Cerita Rakyat Panglima To Dilating

cerita-rakyat-panglima-to-dilating

Dahulu di sebuah bukit Napo di area Tammajarra, Puloweli Mandar berdiri sebuah Kerajaaan Balanipa yang dipimpin oleh Raja Balanipa yang telah tiga puluh tahun tidak dulu senang turun dari jabatannya.

Raja Balanipa ingin berkuasa selamanya. Ia mempunyai dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Akan tetapi, ke dua anak Iaki-Iakinya telah dibunuh olehnya, dikarenakan ia tidak senang mewariskan jabatan Raja kepada dua anak Iaki-Iakinya itu. Sang Permaisuri tidak sanggup berbuat apa-apa, judi bola ia senantiasa menjadi kuatir kalau tengah mengandung. Ia cemas anak yang dikandungnya itu seorang bayi laki-laki lalu akan dibunuh kembali oleh suaminya.

Pada suatu hari, sang Permaisuri tengah mengandung, sebentar kembali ia akan melahirkan, terhadap pas itu Raja Balanipa hendak pergi berburu dalam pas yang lama. Maka sang Raja berpesan kepada panglima Puang Mosso untuk menjaga permaisurinya dan terhitung meminta untuk membunuh bayinya misalnya yang lahir adalah bayi laki-laki. Setelah itu, berangkatlah Raja Balanipa ke Mosso.

Esok harinya, sang Permaisuri pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Anehnya, lidah bayi itu berwarna hitam dan berbulu. Puang Mosso yang menyadari bahwa permaisuri melahirkan bayi laki-laki, ia menjadi kasihan dan tidak tega membunuh bayi itu.

“Aku tidak mungkin membunuh bayi yang tidak berdosa ini,” ucap Puang Mosso sambil menatap bayi laki-laki di depannya. la berpikir keras untuk menyelamatkan bayi laki-laki itu, akhirnya ia menitipkan bayi itu kepada keluarganya yang tinggal di sebuah kampung jauh dari istana. Kemudian ia menyembelih seekor kambing dan dikuburkannya. Lalu ia buatkan nisan di atasnya. Sehingga sang Raja akan mengira bahwa isikan kuburan itu adalah bayi laki-lakinya.

Beberapa minggu lantas sang Raja Balanipa pulang ke istana dan langsung menemui Puang Mosso, “Bagimana kondisi permaisuri? Apakah telah melahirkan?” bertanya sang Raja.

“Ampun Raja, permaisuri telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Dan hamba telah membunuh dan menguburkannya di samping kuburan ke dua anak laki-laki Raja yang lainnya,” menyadari Puang Mosso.

Raja Balanipa langsung menuju area kuburan bayi laki-lakinya itu, ia belum yakin kalau belum memandang langsung kuburan itu. Sesampainya di sana, tampaklah sebuah kuburan kecil yang masih baru. Sang Raja pun yakin bahwa bayi Iaki-lakinya telah mati. la pun kembali menggerakkan tugasnya sebagai raja bersama dengan perasaan tenang dan bahagia, dikarenakan tidak ada kembali yang akan menggantikannya.

Waktu tetap berganti, Putra raja yang dahulu Puang Mosso titipkan di kampung halamannya telah besar, ia tampan dan kekar. Ia terhitung sangat akrab bersama dengan Puang Mosso, dikarenakan hampir tiap tiap minggu Puang Mosso menemuinya secara diam-diam, Puang Mosso terhitung menceritakan asal usulnya yang bahwa sesungguhnya ia adalah Putra Raja Balanipa. Kemudian Puang Mosso menitipkan anak itu kembali kepada seorang pedagang yang akan berlayar menuju Pulau Salerno yang berada sangat jauh dari bukit Napo. Puang Mosso sangat cemas kalau sang Raja menyadari bahwa anak laki-lakinya masih hidup.

Di Pulau Salerno, Putra Raja Balanipa itu tumbuh menjadi anak yang cerdas dan gagah. Ia sangat tekun bekerja dan pintar memanjat pohon kelapa. Hingga suatu hari disaat Ia tengah memanjat pohon kelapa, tiba-tiba

seekor burung rajawali raksasa menyambarnya, lalu membawanya terbang ke area yang jauh yakni di area Gowa, anak itu terlepas dari cengkeraman rajawali raksasa supaya terjatuh di tengah sawah dan ditemukan oleh seorang petani.

Si petani pun langsung melaporkan hal itu kepada Raja Gowa, Tumaparissi Kalonna. Lalu Raja itu meminta petani untuk mempunyai anak itu ke istana. Sang petani langsung mempunyai anak yang ditemukannya itu ke istana, disaat sang Raja memandang dan mengamati anak itu, ia Iangsung tertarik memandang tubuh anak itu yang kekar, ia tertarik untuk menjaga dan mendidiknya supaya kelak menjadi panglima perang yang gagah dan perkasa. Beberapa tahun lantas Putra Raja Balanipa itu sangat menjadi panglima perang yang tangguh supaya pasukan Kerajaan Gowa senantiasa menang dalam perang melawan kerajaan manapun. Raja Gowa lantas berikan gelar panglima perangnya itu bersama dengan gelar I Manyambungi.

Sementara itu, di Kerajaan Balanipa, kondisinya sangat memprihatinkan, Kerajaan itu telah tak sesejahtera dulu, rupanya Raja Balanipa yang merupakan bapak kandung Panglima I Manyambungi telah wafat dan digantikan oleh Raja Lego yakni seorang Raja yang sangat kejam dan bengis. Ia puas menganiaya rakyat, baik yang berada di lokasi kekuasaannya maupun yang berada di negeri luar yakni negeri Samsundu, Mosso dan Todang-Todang. Hal tersebut membawa dampak raja-raja negeri bawahannya menjadi resah.

Mereka pun mengadakan musyawarah untuk melacak cara menghilangkan Raja Lego. Oleh dikarenakan panglima I Manyambungi telah populer ke beraneka daerah, maka para raja negeri bawahan pun mengenalnya dan mereka bersepakat untuk mengundang Panglima I Manyambungi.

Maka diutuslah beberapa perwakilan dari kerajaan-kerajaan bawahan ke Kerajaan Gowa. Setibanya di sana mereka langsung menunjukkan maksudnya, “Hormat kami Tuan, Kami adalah utusan dari kerajaan-kerajaan kecil di area Polewali Mandar. Maksud kedatangan kami adalah ingin meminta pertolongan Tuan untuk melawan Raja Lego yang bengis dan kejam itu,” lapor seorang utusan.

“Siapa Raja Lego itu?” bertanya I Manyambungi.

“Dia adalah Raja penguasa Kerajaan Balanipa yang mengambil alih Raja Balanipa. la puas menganiaya rakyat kami tanpa alasan yang jelas,” tambah_ keliru seorang utusan.

I Manyambungi sangat terkejut pas mendengar jawaban itu. Ia menjadi teringat bersama dengan ayahnya, Raja Balanipa dan keluarganya yang dulu diceritakan oleh Puang Mosso dahulu, “Bagaimana bersama dengan Raja Balanipa dan keluarga istana lainnya terhitung Panglima Puang Mosso?” bertanya I Manyambungi cemas.

“Raja Balanipa dan permaisurinya telah wafat. Sementara beberapa keluarga istana lainnya telah mengungsi. Puang Mosso masih hidup, bahkan dialah yang telah menyelamatkan keluarga istana. Maaf Tuan, bagaimana Tuan sanggup mengenal Puang Mosso?” bertanya utusan yang lain heran.

Kemudian Panglima I Manyambungi menceritakan I asal-usulnya yang merupakan anak dari Raja Balanipa. Para utusan dari Mandar itu pun terkejut dan langsung berikan hormat.

“Baiklah, aku bersedia menopang kalian, tetapi bersama dengan syarat Puang Mosso yang perlu mampir sendiri menjemputku,” pesan Panglima I Manyambungi.

Para utusan itu pun menyanggupinya. Sesampainya di Mandar, mereka langsung menemui Puang Mosso. Mendengar laporan para utusan itu, Puang Mosso menjadi heran dan kuatir mengapa perlu ia yang menjemputnya, siapakah sesungguhnya panglima perang dari Gowa itu. Puang Mosso tetap berpikir sepanjang perjalanan ke Gowa.

Sesampainya di Gowa, Puang Mosso langsung menghadap Panglima I Manyambungi, hati Puang Mosso makin lama berdebar kencang namun I Manyambungi yang senantiasa tersenyum sambil menatap Puang Mosso bersama dengan mata berkaca-kaca, “Kaukah Puang Mosso?” bertanya Panglima I Manyambungi bersama dengan mata berkaca-kaca.

“Benar, Tuan!” jawab Puang Mosso kebingungan, “Maafkan aku Tuan, bisakah Tuan menjulurkan lidah sebentar?” pinta Puang Mosso hati-hati.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *