Mitos Pulau Paskah dan Batu Wajah Moai

mitos-pulau-paskah-dan-batu-wajah-moai

Mitos Pulau Paskah dan Batu Wajah Moai – Rapa Nui atau secara lazim dikenal sebagai Pulau Paskah adalah tempat tinggal bagi Moai ( batu wajah) yang penuh teka-teki. Moai adalah batu monolit yang telah berdiri mengawasi lanskap pulau sepanjang ratusan tahun. Keberadaan mereka adalah bukti keajaiban kecerdasan umat manusia, tetapi maknanya masih menjadi misteri. Pulau Paskah sendiri terletak di Negara Chili, tepatnya di anggota Selatan Samudera Pasifik. Patung-patung Moai menjadi ikon bagi pulau tersebut. Mengapa patung-patung itu berada di sana sesungguhnya telah menjadi pertanyaan para peneliti sejak lama dan lebih dari satu hasil penelitian telah mengutarakan jawabannya. Salah satunya, temuan yang dirilis oleh jurnal Plos One, di mana patung-patung batu itu rupanya didirikan di atas sumber kekuatan alam terutama manusia, yaitu air tawar. Meski begitu, ada mitos-mitos yang rupanya masih jarang didengar perihal Pulau Paskah dan patung-patung Moai. Seperti apakah mitos-mitos tersebut?

Mitos Pulau Paskah dan Batu Wajah Moai

mitos-pulau-paskah-dan-batu-wajah-moai

homeschoolingtexas.org – Mitos penemuan pulau paskah Mungkin dikarenakan keterasingannya, sejarah dan budaya Pulau Paskah belum seutuhnya terjelaskan sehingga berkembang menjadi mitos yang sangat relevan. Namun, mitos-mitos ini kebanyakan dicampuri dengan imajinasi penutur maupun pendengarnya. Oleh dikarenakan itu, rekonstruksi sejarah yang didasarkan terhadap mitos perihal Moai di Pulau Paskah berada di antara realitas dan fantasi. Melansir Imagina Rapa Nui, mgslotonline mitos mengisahkan bahwa seorang Ariki (raja) bernama Hotu Matu’a yang tinggal di benua indah bernama Hiva mendapat mimpi bahwa tanah kerajaannya akan tenggelam dan dia wajib mencari tempat lain untuk membawa rakyatnya. Berbekal nasihat peramal, dia mengirim 7 penjelajah menuju sinar mentari pagi, mencari tanah yang cocok untuk ditinggali dan ditanami ubi jalar yang diyakini sebagai makanan pokok mereka. Setelah berhari-hari berlayar, 7 penjelajah itu mendapatkan pulau kecil tak berpenghuni yang cukup subur untuk ditinggali. Selain membawa ubi jalar, para penjelajah dikabarkan membawa Moai dengan mereka yang mereka tinggal di pulau itu dengan 1 orang penjelajah. Beberapa kala berlalu, Hotu Matu’a selanjutnya tiba di pulau selanjutnya dengan 2 kapal besar dengan rombongannya yang terdiri dari istri, saudara perempuannya dan 100 orang lainnya. Sejak kala itu, pulau yang mereka temukan diberi nama Te pito o te henua atau artinya “pusarnya dunia”. Mitos ini yang barangkali menjadi alasan mengapa lebih dari satu peneliti menjelaskan bahwa ketika sang raja tiba di pulau, pulau itu telah ada penghuninya dan dia mendapatkan ubi jalar termasuk patung-patung Moai yang berdiri.

Mitos Make-Make Mitos lain adalah perihal Make-Make. Dalam mitologi Rapa Nui, Make-Make adalah pencipta umat manusia, dewa kesuburan dan dewa utama “Tangatu manu” dengan kata lain sekte manusia burung. Sekte manusia burung ini menukar jaman Moai yang lebih dahulu terkenal di pulau itu. Make-Make dianggap wujud lokal secara penamaan dari dewa Polinesia lama, Tane. Make-Make diceritakan tidak miliki istri. Dengan mata dan rongga mata besar, Make-Make sering dijadikan subyek petroglif Rapa Nui. Karena dia tidak beristri, dia dikisahkan terasa kesepian dan terasa ada yang tidak cukup didalam hidupnya. Make-Make selanjutnya menciptakan manusia, makhluk hidup yang mampu berpikir dan berbicara. Dia menciptakan manusia dari tanah review merah ke wujud seorang pria. Namun, manusia pertama yang dia ciptakan itu terasa kesepian. Make-Make selanjutnya menidurkan manusia itu dan dari tulang rusuk manusia itu, Make-Make menciptakan manusia lain berkelamin wanita.

Mitos patung Moai tulang rusuk yang menjadi pengusir roh jahat Mitos menjelaskan bahwa terhadap suatu hari, anak tertua Raja Hotu Matu’a, Tu’u Koihu tengah berjalan-jalan di tengah malam. Koihu selanjutnya lihat 2 roh atau “aku-aku” tertidur di hadapannya. Setelah lihat lebih dekat dia mencermati bahwa 2 roh itu tidak miliki daging dan hanya miliki kerangka rusuk. Koihu yang hendak pergi malah membangunkan 2 roh tersebut. Kedua roh itu pun pada akhirnya menghambat Koihu untuk menegaskan bahwa pria itu tak akan menceritakan apa yang dilihatnya kepada orang-orang. Selama 2 hari 2 malam Koihu diawasi oleh 2 roh tersebut. Setelah yakin bahwa Koihu tidak menceritakan apa yang dia lihat kepada orang-orang, 2 roh itu pun pergi.

Setelah bebas dari 2 roh itu, Koihu pergi ke sebuah gubuk dan mengukit sepotong kayu menjadi 2 sosok tanpa badan, hanya kerangka rusuk yang terinspirasi dari “aku-aku” yang dilihatnya. Dengan kayu yang dipahatnya itu, Koihu sesungguhnya tidak menceritakan secara verbal apa yang telah dilihatnya tetapi dia telah mengemukakan secara visual apa yang dia temui. Dalam rutinitas Rapa Nui, patung yang dibikin Koihu itu bernama Kava Kava Moai atau Patung dengan Tulang Rusuk. Patung yang diukir layaknya itu kebanyakan digantung di anggota didalam pintu masuk tempat tinggal mereka untuk mengusir roh jahat.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *